Breaking News
Loading...

Media News

Investor News

Random Post

Recent Post

Monday, April 18, 2016
BKPM Manado Hebat

BKPM Manado Hebat


Presiden Jokowi melakukan persiapan sebelum berkunjung ke Eropa pekan depan selama 5 hari dari 18 sampai 22 April. Kemarin, Presiden mengumpulkan beberapa menterinya di Istana, memberikan kesempatan memberikan masukan agar agenda ke Benua Biru sukses.
Hadir dalam pertemuan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan ThomasTrikasih Lembong, Menteri Bappenas Sofyan Djalil, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Sekretariat Negara Pratikno, Menteri KKP Susi Pudjiastuti, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal, Franky Sibarani. Kepala BKPM Franky Sibarani mengungkapkan, pihaknya mengincar peluang investasi dari Inggris. Menurutnya, ada tujuh sektor investasi potensial yang menjadi bidikannya. Yakni, sektor industri telekomunikasi, barang konsumsi (consumer goods), energi dari sampah, energi dari ombak laut dan diesel, farmasi (vitamin dan obat-obatan), industri kertas dan industri pertahanan.
“Rencananya perusahaan di sektor-sektor tersebut akan hadir baik dalam forum bisnis yang akan menghadirkan kurang lebih 250 pengusaha,” katanya. Franky berharap ketujuh sektor tersebut dapat menyumbang capaian target realisasi investasi tahun ini sebesar Rp 594,8 triliun. Catatan BKPM realisasi investasi dari Inggris selama ini cukup baik, mengalami pe-ningkatan. Pada 2015 investasi mencapai 503 juta dolar AS naik 22,98 persen dari rata-rata investasi pada 2010-2014 yang mencapai 409 juta dolar AS. Menurut Franky, Inggris merupakan salah satu negara yang memberikan kontribusi cukup signifikan dalam pencapaian target investasi nasional. “Untuk Periode 2010-2015, Inggris berada di peringkat ke 10 dengan nilai investasi mencapai Rp 31 triliun,” imbuhnya.
Sementara itu, jika mengacu pada data yang dikeluarkan oleh FDI Times, investasi dari Inggris ke seluruh dunia pada 2015 mencapai 229 miliar dolar AS dari jumlah tersebut yang mengalir ke Indonesia kurang dari 1 persen. Oleh sebab itu, Inggris masuk dalam tujuh negara Eropa yang menjadi prioritas pemasaran investasi BKPM. “Selama ini Inggris masih banyak menanamkan modalnya ke AS, India dan Australia,” katanya. Sementara itu, secara keseluruhan komitmen investasi dari negara-negara Eropa pada Januari 2016 tercatat mencapai Rp 6,53 triliun, naik hampir 10 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 670 miliar. Kenaikan komitmen investasi Eropa tersebut melanjutkan tren positif 2015, di mana komitmen investasi Eropa sepanjang 2015 mengalami kenaikan 16 persen menjadi Rp 37,3 triliun dibandingkan 2014 sebesar Rp 32,2 triliun.
Sumber: Rakyat Merdeka
BKPM Mau Gaet Investor Inggris

BKPM Mau Gaet Investor Inggris


Presiden Jokowi melakukan persiapan sebelum berkunjung ke Eropa pekan depan selama 5 hari dari 18 sampai 22 April. Kemarin, Presiden mengumpulkan beberapa menterinya di Istana, memberikan kesempatan memberikan masukan agar agenda ke Benua Biru sukses.
Hadir dalam pertemuan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Perdagangan ThomasTrikasih Lembong, Menteri Bappenas Sofyan Djalil, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Sekretariat Negara Pratikno, Menteri KKP Susi Pudjiastuti, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal, Franky Sibarani. Kepala BKPM Franky Sibarani mengungkapkan, pihaknya mengincar peluang investasi dari Inggris. Menurutnya, ada tujuh sektor investasi potensial yang menjadi bidikannya. Yakni, sektor industri telekomunikasi, barang konsumsi (consumer goods), energi dari sampah, energi dari ombak laut dan diesel, farmasi (vitamin dan obat-obatan), industri kertas dan industri pertahanan.
“Rencananya perusahaan di sektor-sektor tersebut akan hadir baik dalam forum bisnis yang akan menghadirkan kurang lebih 250 pengusaha,” katanya. Franky berharap ketujuh sektor tersebut dapat menyumbang capaian target realisasi investasi tahun ini sebesar Rp 594,8 triliun. Catatan BKPM realisasi investasi dari Inggris selama ini cukup baik, mengalami pe-ningkatan. Pada 2015 investasi mencapai 503 juta dolar AS naik 22,98 persen dari rata-rata investasi pada 2010-2014 yang mencapai 409 juta dolar AS. Menurut Franky, Inggris merupakan salah satu negara yang memberikan kontribusi cukup signifikan dalam pencapaian target investasi nasional. “Untuk Periode 2010-2015, Inggris berada di peringkat ke 10 dengan nilai investasi mencapai Rp 31 triliun,” imbuhnya.
Sementara itu, jika mengacu pada data yang dikeluarkan oleh FDI Times, investasi dari Inggris ke seluruh dunia pada 2015 mencapai 229 miliar dolar AS dari jumlah tersebut yang mengalir ke Indonesia kurang dari 1 persen. Oleh sebab itu, Inggris masuk dalam tujuh negara Eropa yang menjadi prioritas pemasaran investasi BKPM. “Selama ini Inggris masih banyak menanamkan modalnya ke AS, India dan Australia,” katanya. Sementara itu, secara keseluruhan komitmen investasi dari negara-negara Eropa pada Januari 2016 tercatat mencapai Rp 6,53 triliun, naik hampir 10 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 670 miliar. Kenaikan komitmen investasi Eropa tersebut melanjutkan tren positif 2015, di mana komitmen investasi Eropa sepanjang 2015 mengalami kenaikan 16 persen menjadi Rp 37,3 triliun dibandingkan 2014 sebesar Rp 32,2 triliun.
Sumber: Rakyat Merdeka
Pemangkasan Pajak Korporasi Didukung

Pemangkasan Pajak Korporasi Didukung


Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendukung dan mendorong langkah pemerintah melalui Kementerian Keuangan untuk memangkas pajak korporasi atau pa-jak penghasilan (PPh) sebesar 5% menjadi 20% dari posisi 25% pada tahun ini. Kebijakan itu dinilai mampu meningkatkan daya saing di Indonesia.
Kepala BKPM Franky Sibarani menuturkan, apabila kebijakan ini dilakukan, daya tarik investasi akan meningkat dan mendorong perekonomian nasional. “Pemangkasan tarif PPh korproasi akan membuat struktur perpajakan Indonesia semakin kompetitif bila dibandingkan dengann negara-negara pesaing di ASEAN,” ujar Franky dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (13/4). Lebih lanjut Franky menilai, tarif pajak 20% ma-sih kompetitif di ASEAN. Angka tersebut di bawah rata-rata tarif pajak korporasi di lima negara terbesar Asean yang saat ini di level 22,8%. Kendati memang ada penurunan penerimaan dari PPh korporasi, namun apabila banyak investasi yang masuk maka jumlah wajib pajak (WP) juga akan meningkat.
Investasi Langsung Sebagai informasi, saat ini banyak orang Indonesia yang menyimpan dana di negara-negara tax haven seperti Singapura, British Virgin Island, dan Cook Island. Dari data yang dimiliki oleh BKPM, sepanjang 2010-2015 total investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI) mencapai US$ 146,68 miliar (Rp 1.906 triliun). Dari jumlah tersebut terdapat investasi dari negara tax haven sekitar US$ 91 miliar, tidak sampai 10%. Dua negara tax haven yang paling banyak melakukan investasi di Indonesia adalah British Virgin Island (BVI) dan Mauritius. Sementara saat ini, tarif PPh korporasi di Singapuar sebesar 17%, sedangkan negara lain di Asia menerapkan tarif pajak korporasi cukup beragam antara 5- 30%. Pemerintah terakhir kali memangkas pajak korporasi pada 2010 dari posisi 28% menjadi 25%, bahkan turun dari sebelumnya 30% pada 2009. Pemangkasan tersebut disambut positif oleh pe-laku usaha maupun investor asing dan dalam negeri.
Sumber: Suara Pembaruan
BKPM Undang Perusahaan Farmasi Jerman Berinvestasi

BKPM Undang Perusahaan Farmasi Jerman Berinvestasi


Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) akan mengundang perusahaan farmasi Jerman untuk menanamkan modalnya di Indonesia.


Langkah aktif tersebut dilakukan guna memanfaatkan rangkaian kunjungan Presiden Joko Widodo ke Eropa, yakni Jerman, Inggris, Belanda dan Belgia.
“Kami akan mengundang produsen farmasi Jerman untuk memperluas investasi yang sudah ada maupun melakukan investasi baru di Indonesia mengingat Jerman merupakan sumber investasi sektor farmasi keempat terbesar di dunia, sebesar 4,33 miliar dolar AS,” kata Kepala BKPM Franky Sibarani dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Minggu.
Franky menambahkan, beberapa perusahaan farmasi dari Jerman sudah berinvestasi di Indonesia dan saat ini sedang dalam tahap konstruksi.
Dia juga meyakinkan potensi pasar farmasi Indonesia sangat besar.
“Pasar farmasi Indonesia berpotensi untuk tumbuh dua kali lipat pada 2018 dibandingkan 2013, dan diperkirakan berada di peringkat 20 besar dunia yang didorong oleh tumbuhnya masyarakat kelas menengah,” katanya.
Sementara dana yang dihabiskan untuk kesehatan per kapita di Indonesia naik dari 61 dolar AS pada tahun 2008 menjadi 108 dolar AS pada tahun 2012, namun masih lebih rendah dibanding Filipina 119 dolar AS, Thailand 215 dolar AS dan Malaysia 410 dolar AS.
Lebih lanjut, Franky menjelaskan kebijakan pemerintah membuka investasi terutama di bidang industri bahan baku obat dengan membuka kepemilikan asing hingga 100 persen dari posisi sebelumnya hanya 85 persen.
Kebijakan itu diharapkan dapat meningkatkan daya saing investasi sektor farmasi.
Selain itu, juga diharapkan dapat mendorong investasi di bidang farmasi lainnya seperti industri farmasi obat jadi.
Pasalnya, pelaku industri obat jadi memiliki pilihan bahan baku dengan harga yang lebih rendah dan mengurangi impor bahan baku untuk industri obat jadi.
Berdasarkan data BKPM, komitmen investasi dalam negeri di sektor farmasi pada tahun 2015 mencapai Rp5,14 triliun, naik dibandingkan tahun 2014 sebesar Rp2,47 triliun.
Sementara komitmen investasi asing pada 2015 mencapai 106 juta dolar AS, naik dibandingkan tahun 2014 sebesar 46 juta dolar AS.
Sumber: Antara
Wednesday, February 24, 2016
Testimony Series Invest in Indonesia

Testimony Series Invest in Indonesia


Komunitas profesional muda asal Indonesia yang bekerja di Inggris yang dikenal dengan Young Indonesian Professionals Association (YIPA), bekerjasama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) London mengadakan Indonesia Start-up Forum.
Forum yang dihadiri lebih dari 100 profesional muda dari sektor perbankan, teknologi, konsultan, hukum, telekomunikasi, arsitektur, manufaktur, sekaligus memperkenalkan Dubes RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republik Irlandia, Dr. Rizal Sukma.
Direktur Eksekutif YIPA, Steven Marcelino menjelaskan YIPA memperkenalkan Dubes Rizal Sukma kepada komunitas expats muda yang punya misi untuk menjadi wadah kaum profesional muda Indonesia di Inggris Raya serta memastikan akselerasi dalam networking dan pertumbuhan karir bersama.
Dubes Rizal Sukma, alumni LSE 997 ini menyatakan salah satu mandat yang diberikan Presiden Jokowi kepadanya adalah meningkatkan kerja sama bilateral Indonesia-Inggris dalam hal Ekonomi Kreatif.
Dikatakannya salah satu katalis Ekonomi Kreatif adalah perkembangan pesat dari tech start-ups yang trend nya yang sudah dirasakan di Indonesia, contohnya seperti Go-Jek.
“Sungguh kami bangga atas inisiatif YIPA dalam menggagas Start-up Forum ini,” ujar dia kepada Antara, Minggu (20/3/2016).
Forum tersebut menampilkan Founder Hailo, Russel Hall, dan Founder Proversity, Carl Dawson, bergabung dalam sesi panel entrepreneurship yang difasilitasi Steven Marcelino, berhasil menguak insider info dari kedua usahawan tersebut mengenai betapa pentingnya menemukan co-founder dan tim yang suportif, mencari investasi awal, dan strategi market expansion mereka.
Start-up Forum mendapatkan banyak minat dari ASEAN UK Business Forum (AUBF), ASEAN Young Professionals Network (AYPN), One Young World Network (OYW), dan Anglo-Indonesian Society (AIS). YIPA membuka peluang partnership dan membersip melalui hello@yipa.org.uk.
YIPA akan terus berperan sebagai katalis mempromosikan Indonesia dalam sektor bisnis, ekonomi dan sosial di Inggris karena Council kepengurusan di YIPA percaya bahwa jauhnya jarak bukanlah menjadi halangan asalkan anak muda mau melangkah bersama.
Sumber: Metrotvnews.com
Why Invest?

Why Invest?


Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendukung dan mendorong langkah pemerintah melalui Kementerian Keuangan untuk memangkas pajak korporasi atau pa-jak penghasilan (PPh) sebesar 5% menjadi 20% dari posisi 25% pada tahun ini. Kebijakan itu dinilai mampu meningkatkan daya saing di Indonesia.
Kepala BKPM Franky Sibarani menuturkan, apabila kebijakan ini dilakukan, daya tarik investasi akan meningkat dan mendorong perekonomian nasional. “Pemangkasan tarif PPh korproasi akan membuat struktur perpajakan Indonesia semakin kompetitif bila dibandingkan dengann negara-negara pesaing di ASEAN,” ujar Franky dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (13/4). Lebih lanjut Franky menilai, tarif pajak 20% ma-sih kompetitif di ASEAN. Angka tersebut di bawah rata-rata tarif pajak korporasi di lima negara terbesar Asean yang saat ini di level 22,8%. Kendati memang ada penurunan penerimaan dari PPh korporasi, namun apabila banyak investasi yang masuk maka jumlah wajib pajak (WP) juga akan meningkat.
Investasi Langsung Sebagai informasi, saat ini banyak orang Indonesia yang menyimpan dana di negara-negara tax haven seperti Singapura, British Virgin Island, dan Cook Island. Dari data yang dimiliki oleh BKPM, sepanjang 2010-2015 total investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI) mencapai US$ 146,68 miliar (Rp 1.906 triliun). Dari jumlah tersebut terdapat investasi dari negara tax haven sekitar US$ 91 miliar, tidak sampai 10%. Dua negara tax haven yang paling banyak melakukan investasi di Indonesia adalah British Virgin Island (BVI) dan Mauritius. Sementara saat ini, tarif PPh korporasi di Singapuar sebesar 17%, sedangkan negara lain di Asia menerapkan tarif pajak korporasi cukup beragam antara 5- 30%. Pemerintah terakhir kali memangkas pajak korporasi pada 2010 dari posisi 28% menjadi 25%, bahkan turun dari sebelumnya 30% pada 2009. Pemangkasan tersebut disambut positif oleh pe-laku usaha maupun investor asing dan dalam negeri.
Sumber: Suara Pembaruan
Back To Top